Kamis, 10 Juni 2021

Wartawan Malas Membaca, Pantaskah Jadi Wartawan?


Martha Syaflina, S.E. 

(Foto oleh Khoirul Anam)


 "Bu, materi kemarin sudah dishare apa belum, ya?"

"Bu, di mana lokasi acaranya?"

"Bu, waktu mulainya kapan, ya?"

Pernahkah Anda menemukan tulisan pesan singkat di media sosial seperti itu? Tentu pernah, dong! Terutama di dalam Whatsapp Group. Di sana sering yang bertanya seperti di atas. Saya sendiri menemukannya di grup-grup yang isinya wartawan semua. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa diri mereka sendiri wartawan senior sehingga mereka sudah mencap dirinya orang yang sudah mahir dan selalu rajin membaca. Ada juga yang mengatakan bahwa rata-rata mereka sibuk sehingga tidak menyempatkan dirinya untuk membaca.

Sayang sekali!

Mengaku wartawan tetapi malas membaca. Bagaimana caranya menulis kalau tidak membaca? Ada yang menjawabnya?

Wartawan yang bagus, keren, berkualitas, dan diperhitungkan oleh dunia jurnalistik itu adalah wartawan yang rajin membaca. Tidak ada wartawan yang malas membaca. Bahkan, jika mereka seorang redaktur harus membaca banyak sumber dan berita. Sebab, tugas redaktur 'kan mengedit dan menyunting berita, bagaimana bisa mereka menyunting dan mengedit kalau tidak membaca?

Kegiatan membaca ini sangat penting sekali pun itu hal yang sepele. Mengapa begitu? Ketika kita membaca, semua orang akan tunduk ke kita sebab kita akan dikatakan sebagai orang yang teliti dan berkompetensi. Kita juga akan memiliki ilmu yang banyak dengan membaca. Bahkan, kita juga akan mendapatkan ilmu menulis. Terutama, penggunaan tanda baca dan penulisan kalimat.

Dalam beberapa pelatihan, saya sering menguji beberapa orang dengan tugas-tugas berita yang mereka kerjakan sendiri. Ada yang mengaku sebagia guru namun beritanya seperti menulis artikel. Sungguh miris sekali! Bahkan, ada yang mengaku sudah mengikuti Uji Kompetensi Utama, menulis berita masih tak tahu cara menuliskan tanda petik dan koma. Sangat disayangkan sekali hal ini terjadi.

Ketika saya mengajar seputar penulisan, saya selalu meminta mereka untuk membaca. Minimal membaca grup dengan teliti agar tidak lagi bertanya jam dan kapan akan dimulai kegiatan yang ada di grup tersebut. Bahkan, tugas-tugas mereka saya minta untuk dibaca ulang sehingga bisa mereka koreksi sendiri. Beberapa wartawan mengikuti, hasilnya bagus.

Nah, bagaimana pentingnya membaca itu?

Sangat penting!

Sebab, dengan membaca Anda akan dipandang berkualitas dan mempunyai efek yang luar biasa di mata orang dan wartawan lainnya. Bahkan, Anda pun akan diminta untuk share ilmu, dan lain sebagainya. Kualitas Anda akan terlihat ketika Anda rajin membaca dan membagikan hasil bacaan Anda kepada banyak orang, sehingga mereka akan tertarik dan merespon Anda dengan hal positif.

Jadi, jangan malas membaca jika Anda wartawan. Bacalah dengan seksama apa pun jenis tulisan dan setiap kejadian. 



Rabu, 28 Oktober 2020

Menakar Kadar Cinta pada Rasulullah

Pict: SindoNews Makassar


Banyak hal yang belum kita utuhkan sebagai perwujudan cinta kita pada Rasulullah, salah satunya adalah apakah kita sudah menjalankan sunnahnya? Pertanyaan ini terkadang menimbulkan debat kusir antar pemahaman yang berbeda dalam satu agama. Mengapa tidak? Mereka merasa paling benar dalam memahami seluk-beluk agamanya.

Padahal, beberapa imam pun terlihat damai dengan perbedaan. Sebab, mereka terlahir di zaman yang berbeda dengan kondisi Rasulullah yang juga berbeda. Sehingga, ada beberapa cara menjalankan sunnah yang memang berbeda juga.

Namun, hal ini tidaklah menjadikan kita sebagai pemeluk agama Islam yang sarkastis atau suka menghujat kalau mereka salah dan kita benar. Kita yang merasa tahu seharusnya mengontrol diri kita agar bisa menghargai setiap perbedaan dengan damai. Bukankah indah jika perbedaan ini dijadikan suatu bentuk dalam mewarnai kehidupan?

Ibaratnya, ada warna dasar hitam dan putih, warna ini akan digunakan untuk mewarnai berbagai lukisan. Tidak mungkin warna dasar hitam dan putih saja dapat menciptakan berbagai keindahan? Tentu harus ada warna cerah yang bisa membangkitkan keindahan dan semangat. Salah satunya diberikan warna kuning, hijau, dan sebagainya. Sehingga, lukisan akan hidup dan indah.

Dari analogi di atas, bisa kita simpulkan bahwa suatu perbedaan jika disikapi dengan baik dan saling berpikir positif akan memberikan efek yang positif juga. Hal inilah yang disampaikan Rasulullah pada kita semua bahwa damai itu indah.

Rasulullah berjuang mendamaikan umatnya dengan beragam perbedaan budaya, ras, dan suku bangsa. Bahkan, berbeda agama pun tetap dihargai. Biar pun alih-alih akan menciptakan suasana dakwah, Rasulullah tetap berdamai dan membuatnya dicintai oleh bumi dan langit.

Bagaimana dengan kita?

Sudah seberapakah kadar cinta kita kepada Rasulullah?

Apakah pantas kita disebut mencintai Rasulullah kalau masih membenci, mencari-cari kesalahan, bahkan berdebat tentang hal-hal yang dianggap sepele?

Mari kita renungkan sejenak.

Di hari kelahiran Rasulullah ini, kita seyogyanya mengulang dan menakar kembali rasa cinta kita kepada Rasulullah. Umat Rasulullah adalah umat yang damai dan sejahtera. Marilah kita buktikan dengan cara berdakwah dengan kedamaian dan keindahan tutur bahasa.

Selamat Milad ya Rasulullah SAW.

Allahumma shalli 'ala muhammad wa 'ala alihi wassalim.

The Good Detective! Antara Trauma dan Kebenaran Kasus

Pict; AsianWiki


Penikmat drama thriller pasti sudah menonton drama ini, kan? Saya pastikan sudah. Drama paling keren menurut saya. Dengan adegan yang nano-nano dalam satu cerita. Apalagi menyangkut wartawan yang dimanfaatkan oleh elit politik untuk melindungi mereka. Sudah sering terjadi jika ada kasus-kasus pembunuhan atau kejahatan dicarikan kambinghitamnya sehingga bisa menutupi semua kesalahan para elit.

Drama The Good Detective mengisahkan dua orang detektif cerdas dan pintar. Mereka hidup di zaman yang berbeda dengan pengalaman yang berbeda pula. Pemeran utamanya adalah Son Hyun-joo (Kang Do-chang), Jang Seung-jo (Oh Ji-hyoek) dan Lee Elijah (Jin Seo-kyung). Kang Do-chang memiliki pengalaman selama 18 tahun menjadi detektif di Incheon. Sedangkan, Oh Ji-hyeok memiliki pengalaman 9 tahun di menjadi detektif di Seoul. Oh Ji-hyeok dipindahkan ke Kepolisian Incheon karena ada beberapa masalah.  Sedangkan, Jin Seo-kyung seorang reporter Harian Junghan yang bertugas untuk mengungkapkan kebenaran dari kasus Lee Dae-chul yang disembunyikan bosnya.

Kang Do-chang dan Oh Ji-hyeok sama-sama cerdas dan pintar, hanya saja mereka melakukan penyelidikan kasus dengan cara yang berbeda. Cara inilah yang membuat Kang Do-chang diliputi rasa penyesalan yang menyakitkan ketika dia salah memberikan hasil penyelidikan terhadap Lee Dae-chul yang disangka sebagai pembunuh salah satu detektif yang menangani kasus Lee Dae-chul. 

Siapa sangka kalau seorang petinggi media yaitu bos dari Jin Seo-kyung terlibat dalam kasus ini? Demi membantu kakaknya untuk naik menjadi Menteri Kehakiman, Yoo Jung-seok ( Ji Seung-hyun) rela membunuh semua orang yang mengganggu keluarganya. Ini juga terkait trauma Yoo Jung-seok masa kecil.

Reporter Jin Seo-kyung sempat bingung dan tidak percaya bahwa bos yang dikaguminya itu merupakan seorang pembunuh yang ditutupi dengan sangat rapat. Bahkan, dibantu oleh orang kaya yang ada di Incheon.

Bagaimana kisah mereka selanjutnya?

Silakan ditonton di aplikasi VIU, Drakor.id, dan aplikasi lainnya yang menyediakan drama Korea ini.

Dijamin seru dan mengejutkan!

Selamat menonton.

Oh My Ghost! Serial Percintaan Hantu dengan Manusia

Pict: AsianWiki


Kamu tentu tak meyakini, kan, kalau ada cerita yang tergolong mistis terjadi pada zaman sekarang? Apalagi cerita yang mengandung percintaan antara hantu dan manusia. Bagi yang tidak meyakini, boleh out dari blog ini. Hehe.

Saya sendiri sepenuhnya meyakini ini, sebab dalam dunia nyata pun ada kasus seperti ini. Pernah dengar ada wanita yang sudah bertahun-tahun menikah tapi tak punya anak? Trus, ada wanita yang tidak menyukai pernikahan? Trus, ada perempuan atau laki-laki yang jijik sama wanita? Saya sering menemukan ini. Biasanya ini diruqyah.

Nah, drama Korea Oh My Ghost ini mengingatkan kita pada kasus-kasus ghaib yang dianggap tabu. Drama ini diperankan oleh Park Bo Young (Na Bong-sun), Jo Jung Seok (Kang Sung-woo), Lim Ju-hwan (Choi Sung-jae), dan Kim Seul-gi (Shin Soon-ae). Drama ini sangat sukses di pasaran sebab mengisahkan sebuah percintaan seorang chef terkenal (Kang Sung-woo) dengan seorang asisten dapurnya (Na Bong-sun). 

Awalnya, Na Bong-sun seorang pemalu dan tidak percaya diri. Hal ini menyebabkan Kang Sung-woo kesal dan kerap memarahinya berkali-kali. Apalagi, Na Bong-sun yang mempunyai fisik lemah sehingga dia mudah sekali melihat hantu. Perasaan depresinya menyakitinya sejak kecil, hingga dia mudah dirasuki dan berteman dengan hantu. Ketakutannya membuat dirinya tak bisa tidur. Selama bekerja, dia sering ketiduran sambil mencuci piring dan kurang konsentrasi.

Dengan sikap ini, hantu (Kim Seul-gi) perawan merasukinya. Tujuan dia merasuki Na Bong-sun adalah untuk menyelesaikan kasus kematiannya yang disembunyikan oleh Choi Sung-jae yang menjadi polisi di Distrik Yongsan. Choi Sung-jae dirasuki oleh hantu jahat sehingga dia tidak normal. Dia menabrak Kang Eun-hee adik Kang Sung-woo yang juga istrinya sendiri. Dia menyembunyikan kesalahannya dengan membunuh saksi yaitu Shin Soon-ae.

Bagaimana dengan kisah cinta mereka?

Selama merasuki tubuh Na Bong-sun, Shin Soon-ae terlibat percintaan dengan Kang Sun-woo hingga dia disadarkan oleh Seobinggo seorang cenayang yang bisa melihat hantu. Awalnya, Na Bong-sun tak mau tubuhnya dirasuki lagi, karena mereka memiliki kesepakatan bahwa Shin Soon-ae akan membantu Na Bong-sun dengan Kang Sun-woo, serta Na Bong-sun akan membantu Shin Soon-ae dalam memecahkan kasus kematiannya sendiri.

Pasti kamu penasaran, kan, bagaimana kisah selanjutnya?

Kamu bisa nonton di VIU, Drakor.id, dan aplikasi lainnya yang menyediakan drama-drama Korea.

Selamat menikmati.

Jumat, 23 Oktober 2020

Ada Apa dengan Sekotak Cerita di September?



Baru saja buku Kumpulan Fiksi Mini atau Cerita Mini Sekotak Cerita di September selesai diterbitkan. Hal ini membawa kebanggaan sendiri untuk penulisnya. Mereka yang menulis di sini berkat dari bimbingan di event rutin Roemah Menoelis El-Kutuby. Penulisnya ada sembilan belas orang dengan satu mentor.

Event Nulis Bareng Fiksi Mini ini diprakarsai oleh Roemah Menoelis El-Kutuby dan didukung oleh Penerbit Mediatama Zeine Kutuby (Penerbit MZK). Setiap ada event ini, semua buku diterbitkan dan harus dibeli oleh penulisnya masing-masing.

Nah, kali ini saya akan ceritakan bagaimana perjuangan penulis kita ini dalam memperjuangkan tulisannya. 

Teman-teman tahu nggak?

Penulis di Buku Sekotak Cerita di September ini sangat sibuk sekali mereka. Ada yang bekerja di kantor, di kampus, sekolah, ibu rumah tangga, dan lain sebagainya. Apa yang membuat mereka berhasil menghasilkan buku? Tekad! Ya, mereka sangat bertekad dalam menulis. Apalagi mereka sangat jago dalam menyusun diksi.

Belum lagi ide mereka yang sangat cemerlang yang sudah tertuang di buku ini. Kamu bahkan tidak percaya sekelas ibu rumah tangga bisa menulis dan menghasilkan buku dalam waktu tiga hari? Nah, di Roemah Menoelis El-Kutuby bisa.

Apalagi mentornya Bang Denni Meilizon yang sudah sangat berpengalaman dengan fiksi mini. Beliau pelatih senior yang berbakat sehingga beliau aktif dan membimbing para penulis pemula untuk menjadi penulis benaran.

Buku ini wajib kamu miliki, sebab di dalamnya penuh cerita kejutan. Kamu akan tahu bagaimana perjuangan penulisnya dalam menuliskan buku ini sampai jadi.


Mudahnya Mengatur Layout Blog



Buat kamu yang suka menulis di blog, akan terlihat kaku jika blognya datar-datar saja. Iya, nggak, sih? Iyain ajalah, ya. Hehe. Nih, aku mau bagiin pengalamanku tentang mendesain dan mengatur tata letak atau layout dari blog yang aku bikin sendiri.

Biasanya aku pakai blog wordpress, kali ini aku selingkuh dulu ke blogger. Kayanya di sini beda rasa dan asyik juga. Nah, di sini, aku belajar banyak hal. Apalagi aku habis belajar dari Kang Asep.

Rasanya mengatur tata letak blog itu gampang banget. Kalau ada yang bilang susah berarti belum nyobain itu. Sekarang kamu bisa praktekkan di rumah, ya.

Pertama, kamu bikin blognya dulu. Paling gampang bikin blogger. Trus, kamu daftarnya pakai akun gmail. Jangan yang lain.

Kedua, kamu bisa lihat di samping kiri blog kamu ada layout atau tata letak, klik aja itu. Nanti kamu bisa atur di sana.

Ketiga, kamu jangan lupa ngatur tema blognya. Biar makin cantik dan dikunjungin banyak orang.

Keempat, jangan lupa di save atau disimpan, yah. Kalau nggak disimpan, lalu hilang, bisa ngulang lagi, deh. Sayang banget tahu.

Nah, itu, yah caranya.

Aku paling senang, nih, disuruh nulis di blog ini. Bisa ngomong apa aja di sini. Hehe.

Sekian, ya.

Kamis, 22 Oktober 2020

Lima Menit Jadi Blog



Siapa yang tak kenal dengan blog? Setiap penulis tentu kenal. Biasanya yang suka berbagi ide dan tips sangat suka membuat blog ini. Orang yang suka mengoperasikan atau menulis di blog disebut blogger. Para blogger ini sungguh mempunyai banyak ide dan kreatif. Tidak hanya membagikan tips, mereka terkadanng sangat suka berbagi ilmu-ilmu yang mereka cari dari berbagai referensi.

Nah, kamu tentu penasaran 'kan, gimana cara bikin blog yang bagus dan menarik?

Saya akan share dulu nih pengalaman saya yang bisa membuat blog dalam hitungan menit. Kemarin saya sudah belajar menulis blog dari Kang Asep. Beliau blogger terkenal. Nah, saya diajarkan beliau membuat blog yang hanya dalam hitungan menit saya. Palingan tak sampai 5 menit, deh.

Pertama-tama, saya masih heran mengapa saya harus ikut kelas ini. Soalnya, dulu saya sudah buat blog juga, tapi lupa email dan passwordnya, hanya tahu nama blognya saja. Sekarang saya ulang lagi. Berhubung ada info dari Kang Asep di WAG Suka Nulis ya, saya tertarik. Katanya, blog juga bisa menghasilkan duit layaknya Youtube. Di sini yang membuat saya tertarik.

Alih-alih mengulang lagi kebiasaan dan ilmu lama, saya ikut lagi untuk upgrade diri saya sendiri. Sehingga, saya buka lagi diri saya untuk membuat blog ini.

Ternyata, setelah belajar, saya mendapatkan hal yang baru dari Kang Asep. Materinya mudah dimengerti dan asyik sekali. Saya mengikuti semuanya.

Bagi kamu yang pengen berlatih juga, saya sarankan ikut kelas Kang Asep ini, ya.




Wartawan Malas Membaca, Pantaskah Jadi Wartawan?

Martha Syaflina, S.E.  (Foto oleh Khoirul Anam)  "Bu, materi kemarin sudah di share  apa belum, ya?" "Bu, di mana lokasi acar...